Sebuah kegiatan workshop mengenai Angklung Gubrag Dogdog Lojor dilangsungkan di Goa Gudawang pada 13 Juli 2026 lalu. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk pelestarian budaya dari Angklung Dogdog Lojor sebagai warisan budaya Desa Argapura, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor.
Angklung Gubrag Dogdog Lojor sendiri merupakan kesenian tradisional yang berasal dari wilayah Kabupaten Bogor, tepatnya dari Kampung Cipining, Desa Argapura Kecamatan Cigudeg. Bagi masyarakat setempat, Angklung Gubrag Dogdog Lojor bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan hidup masyarakat. Maka dari itu, Angklung Gubrak Dogdog Lojor pun telah diwariskan secara turun-temurun karena memiliki keterkaitan erat dengan tradisi agraris masyarakat Sunda.
Dalam usaha melestarikannya, tentu perlu dilakukan upaya strategis, salah satunya adalah upaya Rejuvenasi yang memerlukan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat. Mulai dari pemerintah, dunia pendidikan, hingga generasi muda sebagai penerus warisan budaya bangsa. Saat ini, Ki Jawir yang memiliki nama asli Ariansyah telah menjadi pemegang mandat generasi ke-12. Ia telah mengemban beban sejarah untuk memastikan bambu-bambu ini tetap berbunyi sesuai pakemnya. Keberadaan Ki Jawir ini pun menjadi bukti nyata ketahanan budaya yang luar biasa di tengah gempuran disrupsi digital.
Workshop yang diselenggarakan kali ini bukan hanya sekadar pertemuan birokrasi saja. Melainkan sebuah simpul pertemuan antara dua keajaiban, yakni Goa Gudawang sebagai saksi bisu yang berusia 5 juta tahun yang bersanding dengan getaran ritmis Angklung Gubrag, sebuah warisan budaya tak benda yang telah terjaga selama 600 tahun. Workshop dihadiri perwakilan dinas, akademisi, komunitas, seniman, serta masyarakat umum yang menjadi ruang dialektika antara Ki Jawir sebagai pelestari dan Kang Ade Suarsa sebagai pengemas/inovator.
Kegiatan workshop dirancang secara interaktif dengan memadukan materi teori dan praktik. Para peserta mendapatkan pemahaman mengenai sejarah perkembangan Angklung Gubrag Dogdog Lojor, fungsi sosial budaya dalam kehidupan masyarakat Sunda, filosofi yang terkandung dalam setiap unsur pertunjukan, serta teknik dasar memainkan instrumen tersebut. Selain itu, peserta juga berkesempatan untuk berinteraksi langsung dengan para seniman dan pelaku budaya yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlangsungan Angklung Gubrag Dogdog Lojor.
"Workshop ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya kesadaran kolektif untuk menjaga dan mengembangkan warisan budaya daerah sebagai bagian dari identitas bangsa melalui penguatan ekosistem kebudayaan. Melalui workshop ini, kami ingin menyampaikan bahwa Angklung Gubrag Dogdog Lojor memiliki nilai nilai luhur yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat sekarang. Apalagi di tanah kelahirannya, ada ruang publik bernama Goa Gudawang yang berusia jutaaan tahun yang sangat potensial untuk menjadi ruang kolaborasi bersama, sekaligus membangkitkan potensi pariwisata yang pernah jaya di masanya,“ ungkap Kang Jurasep dari Komunitas SEBA selaku Ketua Pelaksana kegiatan workshop.
Melalui pelaksanaan Workshop Angklung Gubrag Dogdog Lojor ini diharapkan semakin banyak masyarakat yang mengenal, memahami, dan mencintai warisan budaya daerahnya sendiri. Pelestarian budaya bukan semata-mata menjaga peninggalan masa lalu, melainkan juga menyiapkan fondasi bagi masa depan yang berakar kuat pada identitas dan karakter bangsa. Dengan semangat kolaborasi dan gotong royong, Angklung Gubrag Dogdog Lojor diharapkan terus bergema sebagai simbol kebanggaan masyarakat Bogor dan kekayaan budaya Indonesia.
Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat posisi Angklung Gubrag sebagai aset budaya daerah yang memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan sektor pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata. Dengan pengelolaan yang tepat, Angklung Gubrag tidak hanya dapat menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan daya tarik wisata berbasis budaya di Kabupaten Bogor.
Tak hanya sekedar acara workshop semata, pada kesempatan ini juga ada sesi latihan singkat memainkan Angklung Gubrag Dogdog Lojor. Sesi latihan itu diikuti oleh para siswa SMP Pelita Cendikia yang sekaligus menjadi acara penutup workshop. Para siswa berkesempatan memainkan jemarinya di angklung untuk mencoba ritme Ganjring dan Kurulung.