Michael Nana dan Beatrice Angelica saling berkolaborasi melalui koleksinya yang bernama ‘GARUDA’ untuk ditampilkan di ajang BRI JF3 Fashion Festival. Koleksi GARUDA ini mengeksplorasi perpaduan antara warisan tekstil Indonesia dan teknik penjahitan Barat yang terinspirasi dari lambang Negara Indonesia, yakni Burung Garuda.
Koleksi GARUDA mengeksplorasi perpaduan antara warisan Indonesia dan Barat yang berdampingan dan berakar pada rasa hormat, pertukaran, dan inovasi. Terinspirasi oleh lambang nasional Indonesia, Garuda yang melambangkan kekuatan, perlindungan, keterbukaan, sekaligus mewujudkan identitas kreatif bersama. Melalui koleksi ini, Mickael dan Beatrice mewujudkan perpaduan ini dengan merayakan motto Garuda yaitu “Bhinneka Tunggal Ika" atau persatuan dalam keberagaman.
Desainer melihat berbagai foto arsip dari akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 di Indonesia. Dalam arsip itu mengungkapkan bagaimana tradisi busana lokal dan pengaruh Eropa hidup berdampingan secara alami. Teknik draping tradisional, siluet yang dililit, dan tekstil buatan tangan ditafsirkan ulang melalui lensa kontemporer. Inspirasi tambahan datang dari para seniman seperti Lenny Kravitz, Erykah Badu, dan Lauryn Hill yang gaya pribadinya menggabungkan kode-kode Barat dengan warisan budaya.
Koleksi tersebut terdiri dari sepuluh tampilan siap pakai, yakni lima pakaian wanita dan lima pakaian pria. Potongan yang tegas dengan bahu lebar, jaket berstruktur, dan celana panjang berpotongan lebar diimbangi oleh pakaian berpotongan longgar yang terinspirasi oleh tradisi busana Indonesia. Tiga tekstil tenun tangan eksklusif dikembangkan bersama para perajin wanita Lombok menggunakan teknik tradisional dan juga penggunaan kain songket. Kain-kain yang ditenun dari katun dengan pewarna alami, menampilkan motif Garuda yang secara khusus diperindah dengan sulaman beludru.
Beatrice Angelica merupakan desainer Indonesia sekaligus pendiri NOEN, sedangkan Michael Nana adalah pendiri MARLON NANA, desainer Prancis. Kolaborasi di antara keduanya menjadi bagian dari PINTU Residency Program, sebuah inisiatif dari lembaga Prancis di Indonesia dan merek fashion Lakon Indonesia karya Thresia Mareta. Proyek ini pun mencerminkan dialog antara fashion Indonesia dan Prancis melalui keahlian, gaya, dan pertukaran budaya.
BRI JF3 Fashion Festival merupakan inisiatif Summarecon yang didukung oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, dan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum Republik Indonesia.
