Berdasarkan data Kementerian Pariwisata Republik Indonesia melalui program Event by Indonesia, sepanjang tahun 2025 terdata 12,2 juta pengunjung atau wisatawan datang ke Indonesia. Hal itu pun menggerakkan 20.887 UMKM dengan 257.561 tenaga kerja yang terlibat, termasuk pelaku seni dan anggota komunitas.
Kunjungan wisatawan ke Indonesia yang terus mengalami peningkatan itu, tentunya harus dibarengi dengan peningkatan kualitas wisata pengalaman itu sendiri. Untuk membaca peluang experience tourism di Indonesia pada tahun 2027 mendatang, maka Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) menggelar agenda tahunannya 'Tourism and MICE Outlook (ITMO) 2027’. Dengan mengangkat tema 'Membangun Nilai Baru Pariwisata Indonesia Melalui Experience Tourism’, ITMO 2027 dilangsungkan pada 24 September 2027 di Artotel Mangkuluhur Suites Jakarta.
ITMO 2027 yang sekaligus untuk menyambut Hari Pariwisata Internasional yang diperingati setiap 27 September ini dibuka secara resmi oleh Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Republik Indonesia, Ni Luh Puspa. Dalam sambutannya, Wamenpar menekankan bahwa wisatawan saat ini tidak lagi berwisata untuk sekadar mengunjungi suatu destinasi, tetapi juga mencari pengalaman yang autentik, personal, dan bermakna. Kecenderungan itu terutama ditunjukkan oleh kalangan milenial dan Gen Z yang 52 persen bersedia membayar lebih untuk mendapatkan pengalaman wisata yang berkualitas.
Kemampuan para pemangku kepentingan pariwisata di Indonesia dalam menjawab minat wisatawan itu akan berdampak positif pada masa tinggal yang lebih lama dan belanja wisatawan yang lebih banyak lagi. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia meningkatkan kualitas wisata pengalaman dengan memanfaatkan dua dari enam tren wisata global, yakni MICE dan bleisure - perpaduan perjalanan business and leisure.
Berdasarkan ICCA Global Watch Business Analytics Country and City Ranking 2025, Indonesia menempati peringkat ke-37 dunia dan ke-4 ASEAN sebagai destinasi wisata MICE. Sejalan dengan MICE, trend bleisure semakin menguat karena pengunjung yang datang ke sebuah event tidak hanya mengisi waktu untuk mengikuti kegiatan di event itu saja, tetapi juga menikmati daya tarik lain yang ada di daerah itu. Berkaca dari Singapura yang merupakan pesaing utama di regional, Indonesia memiliki pekerjaan rumah besar dalam menjahit ekosistem pariwisata, mulai dari penyedia atraksi wisata, hotel, hingga penyedia kuliner untuk memberikan pengalaman wisata yang berkualitas.
“Pengembangan MICE Indonesia harus bergeser dari sekadar menghadirkan event menuju penciptaan pengalaman yang bernilai. Pengalaman tersebut harus mampu memperkuat destinasi, menggerakkan ekonomi lokal, dan juga meningkatkan daya saing Indonesia di panggung MICE dunia. Dengan kata lain, Indonesia tidak hanya menawarkan venue, tapi juga pengalaman di dalamnya,” kata Ni Luh Puspa.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini menambahkan bahwa wisata pengalaman menjadi masa depan pengembangan wisata di Indonesia sebagai upaya menciptakan wisata berkualitas tinggi. Ada tiga komponen utama untuk mewujudkannya, yakni menghargai budaya, alam, dan koneksi antar-manusia. Tanpa ketiganya, wisata pengalaman tidak akan berkualitas. Kemenpar kemudian mengembangkan tiga program flagship sebagai tulang punggung wisata pengalaman di Indonesia sejak tahun lalu, yakni gastronomy, wellness, dan marine tourism. Ke depannya, Kemenpar menambahkan dua program lagi ke dalamnya, yakni wisata wastra dan wisata seni budaya.
Mewakili pelaku usaha pariwisata, Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Hariyadi Sukamdani menekankan pentingnya perencanaan dan pelaksanaan program yang berkelanjutan oleh pemerintah. Pendekatan yang semestinya dikedepankan oleh pemerintah bukanlah proyek agar bisa berkesinambungan dari masa ke masa. “Sesungguhnya, pariwisata yang berkualitas itu dapat direncanakan dengan melihat aspek-aspek, seperti pendalaman potensi di wilayah itu, regulasi yang kondusif, insentif investasi, serta aturan public-private partnership yang menarik bagi investor,” ujar Hariyadi.
Sementara, Erasmus Radjimin, Founder dan CEO Artotel Group, menekankan bahwa menciptakan pengalaman wisata yang lebih baik bisa dilakukan lewat membaca trend gaya hidup yang berkembang saat ini. Trend yang dimaksud adalah gaya hidup sehat yang pastinya sedang digandrungi masyarakat luas. Maka dari itu, melalui Artotel Group yang dimilikinya akan memberikan jawaban akan kebutuhan tamu untuk mendapatkan pengalaman menginap dan tidur yang mengesankan.
“Orang zaman sekarang sudah menggunakan health tracker. Mereka mengecek sleeping score-nya berapa. Itu yang kita coba improve terus. Selain itu, Artotel Group juga akan meluncurkan Wanderlust Recovery Center berupa fasilitas gym untuk menjawab kebutuhan tamu yang menjalankan gaya hidup aktif. Itu kami lakukan karena gaya hidup ke depannya, 1 dari 3 traveller itu akan membutuhkan gym,” ujar Erastus Radjimin atau yang lebih akrab disapa Eri.
Kesuksesan ITMO 2027 terselenggara berkat dukungan dari berbagai pihak. Mulai yakni Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Artotel Group, Artotel Mangkuluhur Suites Jakarta, Injourney, Injourney Hospitality, Kokola, Indofood, dan Yogadihotel. “Event ini terasa sedikit spesial, karena selain menggabungkan dan merayakan hari pariwisata dunia, kegiatan ini juga menjadi momen kami untuk merayakan sembilan tahun penyelenggaraan Indonesia Tourism Outlook,” kata Ketua Forwaparekraf, Tiara Maharani Kusuma.